Hari masih pagi, satu sosok terlihat berjalan ringan di trotoar. Seorang cewek berseragam putih abu-abu, dengan rambut panjang sepinggang yang dikepang kelabang dan tas selempang yang berayun-ayun seiring langkahnya.
Dia bersiul-siul, menikmati hawa pagi, dan melihat berkas-berkas mentari yang menyelinap di antara pepohonan, membentuk garis-garis yang terlihat jelas namun tak dapat disentuhnya.
Terkadang disentuhnya gagang tengah kacamatanya, membenarkan letaknya yang sedikit melorot. Kacamatanya tebal, minus 7. tanpa kacamata ini dia nyaris buta.
Rina, nama cewek itu, sedikit tegang punggungnya tatkala dia mendengar satu suara yang makin mendekatinya dari belakang. Dia sedikit lebih minggir untuk siapapun yang akan melewatinya. Dia punya perasaan buruk tentang hal ini.
Benar saja, saat kendaraan itu lewat, sebuah balon berisi air dilemparkan dan mendarat persis di sebelah kakinya. Rina menjerit sambil melompat.
Terdengar tawa kencang dari penghuni mobil sedan berwarna merah terang itu. Rina menggeram, dia tahu itu Bobby dan teman-teman cecunguknya ada di dalam sana. Hampir setiap pagi mereka melakukan rutinitas seperti ini, mengganggu Rina karena rute perjalanan mereka ke sekolah selalu sama.
Rina menghela nafas kesal, sambil mengeluarkan sapu tangan untuk mengeringkan kakinya.
Kali ini tidak terlalu telak, pernah satu kali lemparan mereka mengenai badannya. Dia sampai harus pulang ke rumah untuk berganti seragam dan meminta kakaknya untuk mengantarnya ke sekolah kalau tidak mau terlambat.
Tentu saja Rina tidak bisa mengatakan kepada ibunya bahwa yang melakukan semua ini adalah Bobby.
Oh, tidak. Ibunya tidak akan percaya. Di mata ibunya dan orang-orang disekitarnya Bobby itu adalah anak yang manis. Selalu patuh dan suka menolong. Satu-satu kelemahannya adalah nilai pelajarannya tidak terlalu bagus, kalau tidak mau dibilang mengerikan.
Dan karena itu hampir setiap malam ibu Bobby, yang bertetangga dan berteman baik dengan ibu Rina, mengirim Bobby untuk belajar bersama di rumah Rina. Rupanya baik ibu Bobby ataupun ibu Rina beranggapan dengan belajar bersama, Rina dapat menularkan sedikir keenceran otaknya kepada Bobby yang hampir tiap ujian mendapat nilai dibawah rata-rata.
Sayangnya, tanpa sepengetahuan kedua ibu mereka, setiap kali Bobby belajar di rumah Rina, di dalam kamarnya, setiap kali itu juga Bobby menyelinap lewat jendela untuk kabur bersama teman-temannya.
“Jangan ngadu” Ancam Bobby di awal-awal dulu.
Hhmfff, tidak perlu diancampun aku tidak tertarik untuk ikut campur dalam masalahmu, dengus Rina kesal akan ancaman Bobby pada waktu itu.
Terus terang dia sedikit takut kalau-kalau ibunya mengetahui hal ini. Bagaimanapun dengan diam dia ikut membantu Bobby kan. Karenanya setiap belajar bersama Rina akan mengunci pintu kamarnya. Menyediakan banyak air minum agar dia tidak perlu keluar kamar, Setelah beberapa saat Bobby bahkan berbaik hati membawakannya bermacam camilan. Mungkin sebagai sogokan, Rina tidak peduli. Biasanya cemilan-cemilan itu akan dibawanya ke sekolah untuk diberikan kepada teman sebangkunya yang suka sekali makan, Sasha.
Rina sering berpikir, dan mengingat-ingat, semenjak kapan Bobby menjelma menjadi satu sosok yang menjengkelkan seperti itu. berteman dengan anak-anak yang ‘populer’ di sekolah. Hampir setiap malam keluar untuk nongkrong atau main di mall, atau di diskotik. Rina tahu Bobby sering pergi ke diskotik, karena kalau pulang kadang Rina dapat mencium bau asap rokok yang pekat dan alkohol. Biasanya Bobby akan mandi dulu sebelum pulang ke rumahnya. Supaya ibunya tidak bisa membauinya. Untungnya kamar tidur Rina memiliki kamar mandi di dalam, jadi Bobby juga suka meninggalkan pakaiannya disana.
Kadang Rina heran dengan orang tuanya yang sepertinya membebaskan hubungannya dengan Bobby. Apa mereka tidak khawatir melihat Bobby berlama-lama terkurung di kamar berduaan saja dengan Rina. Apalagi Bobby sering mandi disana. Seharusnya untuk ukuran orang normal hal seperti ini tentu mencurigakan.
Tapi tidak untuk orang tuanya. Juga orang tua Bobby. Ibu mereka sudah berteman semenjak muda, hingga menikah. Lalu waktu melahirkannyapun hampir bersamaan. Dan sepertinya mereka sudah sepakat untuk menjodohkan anak mereka bila yang terlahir adalah perempuan dan lelaki. Jadi sepertinya orang tuanya justru mendorong agar dia dan Bobby selalu dan semakin dekat.
Kalau saja mereka tahu seperti apa hubungan mereka berdua, mereka pasti setuju untuk menghapuskan angan-angan konyol mereka untuk jadi satu keluarga itu.
Dulu Bobby tidak seperti ini. Rina sudah mengenalnya sedari bayi, mereka selalu bersama tentu saja. Playgroup, TK, SD, SMP, hingga SMA. Dulu Bobby benar-benar anak yang manis. Dia baik kepada Rina, mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama bila ibu mereka shopping atau menggosip asyik di rumah.
Tapi menjelang remaja, sepertinya jalan hidup mereka terpisah begitu saja.
Rina lebih fokus ke pelajarannya, sedangkan Bobby masih terus senang bermain. Sehingga Rina mulai menolak bila Bobby mengajaknya bermain game atau keluar.
Di sekolah Bobby dengan sikapnya yang periang juga mudah memperoleh teman, sedangkan Rina yang kutu buku lebih banyak berteman dengan ngengat di perpustakaan.
Keduanya terkenal di mata guru mereka, dengan caranya sendiri-sendiri, tentu saja. Rina dikenal karena prestasi akademiknya, sering ikut lomba cerdas cermat, atau ikut olimpiade matematika, sedangkan Bobby terkenal karena seringnya dia membolos atau membuat kekacauan di sekolah.
***
Akhir-akhir ini Bobby terlihat gelisah, Rina memperhatikannya tatkala Bobby berada di rumahnya, menunggu jemputan teman-temannya.
“Kenapa sih kamu?” Tanya Rina lebih ke arah jengkel karena terganggu oleh Bobby yang bergerak saja dari tadi. Sebentar duduk, sebentar berdiri, sebentar ke jendela, sebentar duduk di ranjangnya. Bobby menoleh dan memandang Rina, lalu dengan cepat dia mendekatinya.
“Aku….aku gelisah” Jawab Bobby dengan suara bergetar. Rina sedikit terkejut. Pertama karena dia tidak mengharap Bobby akan menjawab pertanyaannya, kedua karena dia sama sekali tidak siap menerima jawaban Bobby yang seperti itu. benarkah dia mendengar nada putus asa disana?
“Memangnya ada apa?” Tanyanya ogah-ogahan. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur masalah Bobby, tapi karena dia yang pertama kali bertanya, mau tidak mau dia meresponnya.
“Ng….ng….begini” Bobby terlihat kurang nyaman untuk mulai bercerita.
“Kalau kamu gak bisa cerita sama aku gak apa-apa. Aku Cuma lihat kamu kayanya gelisah. Kamu bisa cerita ke temanmu saja, mungkin lebih leluasa” Potong Rina pada akhirnya. Tidak tahan melihat Bobby bertingkah seperti itu.
“JANGAN! Eh, maksudku, gak bisa. Jangan sampe mereka tahu” Bobby tiba-tiba berkata keras, mengagetkan Rina sampai melorot kacamatanya.
“Kenapa?” Tanya Rina mulai penasaran. Ada rahasia apakah pada Bobby, sampai-sampai dia tidak ingin teman-temannya pada tahu?
“Begini, Rin…” Bobby mencoba lagi untuk berkata. Rina merasa sedikit aneh mendengar Bobby memanggil namanya, ‘kamu kan cewek, eh, perempuan….’ Bobby tercekat lagi. Rina memutar bola matanya, will this conversation going somewhere….runtuknya dalam hati. Tapi dia menahan lidahnya, ‘sedikit banyaknya kamu tahulah apa yang cewek suka. Maksudku, ehem, bagaimana kamu tahu kalau seorang cowok suka sama kamu? Maksudku, eh…’ Bobby kehilangan kata-kata lagi untuk berbicara.
Melebar mata Rina, jadi ini masalah cewek? Olala, si Bobby naksir seseorang dan dia tidak tahu hendak berbuat apa. Dan dia tentu saja dia tidak dapat bercerita kepada teman-temannya yang cecunguk itu. mereka pasti akan menggodanya habis-habisan. Belum lagi kemungkinan besar akan mengejeknya didepan cewek taksirannya, Kalau itu terjadi bisa mati kutu si Bobby. Hhmm, so much for some friend which you hang out everyday.
“Bagaimana aku bisa tahu kalau seseorang suka padaku?” Tanya Rina menahan geli, dia sengaja tidak langsung bertanya siapa yang sedang ditaksir Bobby, karena sepertinya Bobby belum mau mengaku kalau dia sedang menyukai seseorang, ‘kalau ada yang lebih memperhatikanku, mendengar omonganku, di saat tidak terduga menolongku dengan hal-hal kecil, kamu tahu, saat aku cape dia menawarkan minum, atau saat melihatku berdiri, dia menawarkan kursi untuk duduk, gitu deh’ Rina menjelaskan dengan santai.
“Apa semua cewek kaya gitu?” Tanya Boby lagi, kali ini dia sudah duduk bersila di hadapan Rina, memperhatikannya lekat-lekat.
“Yaaah, mungkin sebagian besarlah seperti itu, aku gak tau ya kalau ada kasus khusus. Memang ada apa kok tiba-tiba tanya begini?” Rina menjawab sambil mengangkat bahu, dan sewaktu bertanya matanya melirik ke arah Bobby diam-diam. Dia melihat Bobby sedang menimbang-nimbang.
“Aku….” Suara Bobby mengambang, karena terdengar suara bel mobil dari kejauhan. Temannya datang menjemput, ‘aku pergi dulu’ katanya dengan cengiran kaku. Lalu menghilang keluar dari jendela. Rina Cuma mengangguk lalu kembali membaca teks book nya.
***
Kira-kira jam 11 waktu Bobby kembali muncul di jendela Rina. Rina hanya melihatnya sekilas. Tidak bertanya apa-apa, tidak berkata apa-apa. Kadang Bobby mandi dulu sebelum pulang, tapi kadang Bobby berlalu begitu saja tanpa berkata apapun juga kepadanya.
Tapi malam ini Bobby duduk disampingnya yang tengah membaca buku cerita sebelum tidur. Agak heran juga Rina akan tingkahnya. Dia merasa Bobby ingin mengatakan sesuatu, Karena itu dia menaruh bookmark pada halaman yang tengah dibacanya dan menaruhnya di meja. Sesaat mereka hanya diam, karena Rina juga tidak bertanya apa-apa, dia hanya menunggu apa yang ingin dikatakan Bobby.
“Thanks” Hanya itu yang terlontar dari mulutnya, Lalu dia berjalan keluar kamar, pulang.
Walaupun heran, Rina tidak terlalu menggubrisnya, kembali diambilnya buku yang tadi dibacanya. Dia mau menyelesaikan satu bab sebelum pergi tidur.
***
Siapa sangka satu kalimat itu menjadi awal komunikasi diantara mereka. Esoknya Bobby bertanya lebih banyak hal-hal mengenai perempuan kepadanya, masih belum mau mengaku bahwa dia sedang mengejar seseorang. Dan kelamaan topik pembicaraan mereka malah sudah menjalar ke banyak hal. Apa saja kegiatan mereka selama ini, karena walaupun satu sekolah, mereka tidak pernah berbicara seperti ini, mereka juga membicarakan masa lalu mereka. Saling menggoda, mengingat saat-saat mereka menangis karena dihukum orang tua atau bila keinginannya tidak dipenuhi. Bobby menemukan bahwa Rina ternyata cukup asyik untuk diajak berbicara, dan Rina menemukan bahwa di Bobby ternyata cukup cerdas bila membicarakan hal-hal yang disenanginya. Misalnya saja dia tahu banyak tentang fotografi dan mekanik, dia juga suka olah raga basket dan mendaki gunung. Kalau mengenai dua hal terakhir tentang Bobby tadi Rina sudah tahu sebelumnya karena dia tahu Bobby mengikuti dua ekstra kulikuler itu di sekolahan.
Biasanya klub basket latihan setiap hari selasa dan jum’at sepulang sekolah. Rina juga sering melihat Bobby bermain basket di lapangan bila ada jam istirahat. Atau saat kelasnya sedang pelajaran olah raga, biasanya diakhir pelajaran ada waktu bebas dan Bobby selalu terlihat gemilang di antara teman-temannya dalam mengoper atau menembak bola basket ke dalam jaring.
Kadang Rina juga memperhatikan ada hari-hari Bobby bolos sekolah namun itu tidak berkaitan dengan hal-hal nongkrong di mall atau cabut bersama gank-nya, melinkan dia pergi bersama kelompok pecinta alamnya. Rina dapat melihat sekelebat bayangan Bobby yang sedang mengepak-ngepak di kamarnya. Rina melihatnya dari jendela kamarnya. Biasanya kalau sedang mau pergi mendaki Bobby terlihat amat semangat, sehingga di mengepak barangnyapun kelewat semangat alias menimbulkan begitu banyak suara. Membuat konsentrasi Rina sedikit terganggu dan mengintip sedikit ke rumah sebelah. Dan dia akan sedikit tersenyum melihat Bobby yang berusaha menyortir barang-barang apa saja yang ingin dibawanya. Kadang sudah dimasukkan dalam tas lalu di bongkar lagi. Merasa terlalu banyak atau ada yang kurang, sementara suara musik alternative terdengar mengiringi kesibukannya.
Ah, Rina termangu, kenapa dia bisa tahu begitu banyak tentang Bobby, dan kenapa ternyata tanpa disadarinya dia sering memperhatikannya.
Memang tanpa sadar Rina selalu memilih duduk dekat jendela di perpustakaan bila sedang membaca, karena dari situ dia bisa melihat Bobby yang sedang ekskul basket. Dan bila Bobby bergerak lincah memasukkan bola, Rina merasa senang dan jadi semangat belajar.
Tuh, kan. Lagi-lagi ternyata dia selalu memperhatikan Bobby.
Wah, kenapa dia begini yah.
Masa sih tanpa disadari dia ternyata memiliki perasaan khusus kepadanya?
Tapi, kalau memang begitu kenapa selama ini dia tidak pernah deg-degan kalau berada dekat dengan Bobby. Mereka kan sering banget berada di dalam satu ruangan. Apalagi akhir-akhir ini, Bobby lebih dekat dengannya semenjak dia curhat masalah percintaannya itu.
Dan Rina tidak merasa cemburu juga mendengar curhat Bobby akan cintanya.
Jadi sebenarnya apa yang kulakukan yah, piker Rina bengong.
“AWAS!!”
Suara bentakan di belakangnya itu mengagetkan Rina, dia menoleh untuk tahu siapa yang mengeluarkan suara sebesar itu sampai membuatnya terlonjak.
Sayangnya dia lupa kalau dia tidak sedang menginjak tanah.
Sewaktu bengong tadi, dia tengah memanjat rak bukunya untuk mengambil satu buku di rak yang paling atas. Buku Dee yang ingin dibacanya ulang.
Waktu itulah semua pikiran tentang Bobby membuatnya termenung, terpaku, tidak ingat dimana dia tengah berada.
Dan Bobby yang baru datang, melihatnya bergelantungan di rak buku tingkat yang tingginya hampir menyentuh atap kamarnya itu tentu kaget, mungkin dia menyangkanya akan jatuh, pdahal justru karena teriakannya itulah Rina kehilangan keseimbangannya. Dan benar-benar terjatuh, karena dia lupa dia tengah berada di atas rak, dan saat dia berbalik, tanpa sadar pegangannya terlepas.
Rina sudah memejamkan matanya erat, pasrah bersiap menerima hempasan ubin yang akan beradu dengan punggungnya.
Tapi rasa sakit yang ditunggu-tunggunya itu tidak juga kunjung datang. Sebaliknya dia merasakan satu dekapan yang hangat.
“Kamu baik-baik saja?” terdengar olehnya suara Bobby.
Rina membuka matanya yang terpejam perlahan. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Bobby, begitu dekat.
Dan setelah beberapa saat bengong memandang wajahnya, Rina menyadari bahwa dia sekarang ada dalam gedongan Bobby. Bobby telah bereaksi cepat dan menangkapnya saat jatuh tadi. Menyelamatkannya dari kemungkinan patah tulang atau setidaknya benjol di kepala.
Rina dapat merasakan hembusan napas Bobby menyapu wajahnya. Mungkin dia keberatan menggendongku. Jadi aku harus turun, batin Rina berpikir.
Say something, lepaskan kalungan tanganmu dari lehernya, perintah suara di kepalanya.
Tapi anehnya, badanya terasa kaku. Tidak ingin mengikuti perintah suara itu. Dan semakin lama suara di kepalanya itu terdengar semakin memudar.
Pikiran Rina sekarang seakan diliputi kabut. Tidak jelas apa yang harus dilakukan dan dikatakannya.
“Untung tidak jatuh” Suara Bobby membawa kesadaran Rina kembali.
“Maaf, aku berat ya” Rina mencoba tersenyum tatkala beringsut turun dari gendongan Bobby.
“Ah, gak seberat bawaanku kalau naik gunung kok” Bobby tersenyum.
“Thanks” Rina mengucapkan sambil menunduk. Entah kenapa, tiba-tiba dia tidak kuasa untuk memandang Bobby saat ini.
Bobby tidak menjawab, dan Rina merasakan suasana mendadak menjadi kaku, karena dia tidak mendengar Bobby bereaksi, sedangkan dia masih melihat kaki Bobby berada di depannya. Sebenarnya apa yang sedang Bobby lakukan. Kenapa dia tidak beranjak dari hadapanku?
Dan Rina sedikit tersekap karena merasakan jemari Bobby mengamit dagunya. Menegakkan kepalanya untuk menatapnya.
Rina dapat merasakan jantungnya berdebar sangat kencang sekarang. Seakan-akan bisa meloncat keluar kapan saja.
Bobby menatapnya dengan lembut, Rina dapat merasakannya. Ini pertama kalinya Bobby menyentuhnya setelah mereka berhenti bermain saat kecil dulu. Dan Rina terkejut mendapatkan bahwa sentuhan Bobby juga terasa lembut di kulitnya. Padahal dengan aktifitasnya yang ‘cowok’ Rina menyangka kulit Bobby akan menjadi kasar setidaknya. Khas cowok.
Bobby akan mengatakan sesuatu, setidaknya itulah yang Rina perkirakan. Karena bibir Bobby terlihat bergerak dan wajahnya sekarang sudah amat dekat. Tapi suara itu tidak keluar juga dari dalam tenggorokannya.
Dan suara klakson dari luar mengagetkan mereka berdua.
Bobby tersentak dan memundurkan badannya.
Rina dapat mendengarnya berdesis ‘sialan’, bukan kepada dirinya, tapi kepada temannya yang ternyata telah menjemputnya di luar sana.
Bobby melongokkan separuh badannya dari jendela, lalu setelah melambai-lambai kearah mereka dia berbalik badan.
“Aku…pergi dulu” Ucapnya kaku. Rina hanya menatapnya, maksud hati ingin menjawab pamitannya. Tapi yang terjadi justru dia hanya menyunggingkan sedikit bibirnya dan mengeluarkan suara yang tidak lebih dari desahan. Tidak tahu Bobby mendengarnya atau tidak.
Bobby sudah mengeluarkan separuh badannya lagi melalui jendela saat dia berbalik lagi.
“Kapan-kapan….besok, ikut keluar yuk” Ucapnya. Rina yang masih bengong lagi-lagi hanya menatapnya dengan pandangan berubah menjadi heran. Dia belum sempat mengeluarkan pertanyaan atau keberatan. Bobby sudah berlalu setelah berkata “ok deh, besok”
Lama setelah Bobby menghilang Rina baru memperoleh kekuatannya untuk duduk di samping ranjangnya.
Beberapa saat lagi setelah itu seakan pikirannya baru kembali dan diapun mencoba menganalisa apa yang baru saja terjadi barusan.
Dia jatuh, lalu Bobby memeluknya.
Bukan, bukan memeluk. Tapi menangkap agar tidak jatuh.
Tapi dia menangkap dengan cara memeluk.
Tentu saja dengan cara itu. Mau dengan cara bagaimana lagi. Masa dia harus menangkap dengan punggungnya.
Hhh, Rina mendesahkan nafasnya. Saat berada di pelukan Bobby tadi, dia merasakan sesuatu. Tak dapat dijelaskan, tak dapat digambarkan.
Tidak seperti saat dia bersama ayahnya, sosok lelaki satu-satunya yang dapat diperbandingkan dengan Bobby, karena dia tidak memiliki saudara, apalagi teman cowok.
Walaupun sudah sebesar ini, terkadang kalau lagi kumat manjanya Rina masih suka dekat-dekat ayahnya. Kadang suka merapat waktu ayahnya menonton berita atau debat di televise. Dan ayahnya akan membelai rambutnya atau memeluknya. Sementara ibunya hanya akan menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
“Biarlah, mumpung masih sempat. Besok-besok kalau sudah punya pacar pasti lupa dengan ayahnya ini” Gurau Ayah selalu kalau ibunya berkomentar akan kelakuannya.
Bukannya Rina menganggap Bobby itu pacarnya atau apa sih, tapi Bobby cowok pertama yang memeluknya selain ayahnya. Walaupun itu pelukan darurat.
Rina menggigil, rasanya ada angin berdesir di rongga dadanya.
Saat dipeluk tadi dia merasa aman, nyaman, sekaligus gelisah saat memandang ke mata Bobby.
Ah, apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Apakah tanpa sadar dia memiliki satu perasaan istimewa kepada Bobby?
Ataukah ini hanya efek dari pelukan itu? Apakah dia akan merasakan hal yang sama kalau yang memeluknya cowok lain?
Rina merebahkan kepalanya sambil mendesah. Hatinya resah. Apalagi teringat besok Bobby akan mengajaknya keluar.
Oh, tidak!
Rina bangkit dengan cepat sampai meloncat.
Besok Bobby akan mengajaknya pergi entah kemana. Dan dia tidak tahu harus pakai baju apa.
Malam itu Rina sibuk membongkar-bongkar lemarinya. Mencoba-coba setiap atasan dan bawahan. Bahkan sibuk menata rambut dan merias wajahnya.
Terlalu norak,
Terlalu sederhana.
Terlalu pendek,
Terlalu terbuka.
Hhh….repotnya.
***
Mata Bobby melebar tatkala membuka pintu kamar dan melihat Rina yang sedang duduk di kursi riasnya. Rina tengah duduk menghadap cermin dan memoles pipinya. Entah untuk yang keberapa kali. Sebenarnya riasannya sudah sempurna. Tidak terlalu tebal, tidak terlalu pucat. Ceria, khas remaja. Dia memulas pipinya lagi dan lagi hanya karena perasaannya yang sangat gugup saat menunggu Bobby. Dan sewaktu dia menyadari Bobby telah berada di belakangnya, tersenyum memandangnya. Dia tertawa kikuk.
“Eh, itu…aku…” Rina berkata kaku sambil menunjuk-nunjuk kea rah cermin, lalu wajahnya, lalu kursi riasnya. Dan pada akhirnya dia terdiam.
Bobby tersenyum menghadapi kekikukannya, dan Rinapun tertawa kecil, menyadari keanehannya.
“Kamu cantik kok” Bobby mengatakannya dengan tulus membuat Rina tersipu.
“Kita keluar lewat sini? tunggu temanmu datang?” Tanya Rina sambil melihat keluar jendela kamarnya.
Bobby tertawa, mengagetkannya.
“Tentu saja tidak. Masa aku mau bawa pergi anak gadis orang tanpa pamitan ke orang tuanya. Tadi aku sudah bilang ke tante kalau malam ini mau ajak kamu jalan. Kamu tidak beritahu mereka kalau kita mau pergi ya, kok tadi tante heran waktu aku bicara kepadanya” Kata Bobby.
Rina menunduk menyembunyikan tawanya. Dia memang tidak berkata apa-apa ke ibunya. Karena dia tidak berpikir Bobby akan berperilaku sesopan itu. Dia pikir mereka akan menyelinap pergi seperti biasanya Bobby pergi setiap malamnya dari kamar dia.
“Ok, kita pergi sekarang?” Bobby berkata, dan Rina mengangguk lalu berjalan bersamanya.
Ternyata Bobby khusus meminjam mobil ayahnya untuk malam itu. dan Rina merasa teristimewakan sekali karena Bobby berlaku sangat gentleman kepadanya.
Dia membukakan pintu mobil untuk Rina, juga menggandeng tangan Rina waktu memasuki restoran. Menarikkannya kursi, juga bertanya padanya terlebih dahulu ingin makan apa.
Malam itu mereka berbicara banyak. Tentang masa kecil mereka, angan-angan mereka, juga hal-hal yang terjadi pada mereka selama mereka belum seakrab sekarang.
Karena mereka pergi belum terlalu malam, masih sekitar jam 8.30 maka suasana club belum terlalu ramai. Di sekitar masih terlihat para karyawan yang membereskan meja. Sebenarnya sewaktu mereka datang tadipun beberapa karyawan terlihat heran. Tapi sepertinya mereka mengenal Bobby, karenanya mereka hanya tersenyum tidak berkomentar apa-apa.
Walau tamu belum berdatangan tapi club sudah memutar music begitu kencang. Awalnya Rina sampai tidak dapat mendengar apapun. Dia hanya melihat mulut Bobby bergerak seperti ikan mas, membuatnya tertawa terbahak.
“Aku pergi ke toilet dulu ya” Bobby berkata di telinga Rina. Sejak tadi mereka memang berbicara seperti itu. karena tidak terdengar kata apapun, jadi mereka saling berbicara di telinga. Awalnya Rina merasa gugup, sedikit geli setiap merasa hembusan nafas Bobby. Menyadari begitu dekat Bobby dengannya membuatnya deg-degan.
Rina mengangguk sambil tersenyum.
Sambil menunggu Bobby dia menghabiskan remah-remah makanannya. Melihat sekeliling, sudah lebih banyak orang datang memenuhi ruangan. Mereka saling sapa. Sepertinya tempat ini merupakan satu komunitas, mereka yang datang terlihat saling mengenal.
Rina celingukan, mencari Bobby, rasanya tidak enak sendirian di tempat seramai ini.
Sebuah colekan di bahu membuatnya terlompat.
Ternyata Bobby, berada di belakangnya dan tersenyum melihat reaksinya.
‘Sorry’ kata Bobby tak terdengar suaranya, tapi Rina bisa mengira dari gerakan mulutnya.
Rina tersenyum ‘gak papa’ balasnya.
Bobby menggenggam tangan Rina lalu menariknya. Rina mengikutinya dengan sedikit heran.
Sampai di tengah ruangan Bobby berhenti, berbalik badan menghadapnya.
Rina menatapnya dengan heran, tidak mengerti apa yang diinginkan Bobby.
Bobby melangkah maju satu. Rina bergeming.
Tiba-tiba suasana berubah, telinga Rina bisa mendengar lebih baik.
Bobby tersenyum lalu mengamit tangan Rina dan meletakkannya di bahunya.
Dengan cepat Rina menarik tangannya, dia menggeleng.
“Aku gak bisa dansa” bisiknya.
Tapi Bobby kembali maju, mengamit tangannya, meletakkannya lagi di bahunya.
“Ikuti saja ketukan iramanya, seirama degup jantung” bisikknya di telinga Rina. Dan terus terang saja Rina semakin menjadi bingung, karena jantungnya tidak berirama sekarang, malah seperti meloncat sana sini, juga seperti berlari.
Heran juga Rina kenapa sampai saat ini kakinya belum tersandung.
Tapi wajah Rina pasti terlihat sangat gugup, karena itu Bobby memangdangnya terus. Dengan tatapan aneh pula. Jangan-jangan dia malu terlihat bersama pasangan yang begitu rikuh, sampai melakukan slow dance yang katanya sangat mudah inipun tidak bisa.
Rina mencoba tersenyum, tapi rasanya gagal, kalau melihat tatapan Bobby yang ganjil kepadanya.
“Aku kan sudah bilang kalau aku gak bisa dansa” bisik Rina menunduk.
“Apa? Oh, tidak, kamu OK kok. Aku Cuma sedikit ngelamun” Bobby berkata cepat.
“Hai Bob” Sebuah suara terdengar dari balik punggung Bobby. Bobby menoleh, Rina juga ikut menggeser pandangannya.
Seorang cewek cantik dengan dandanan trendi sedang berdiri disana. Dia lebih tinggi dari Rina, berambut ombak sepundak, memakai rok pendek dengan sepatu berhak rendah.
“Intan…” Sebut Bobby, terdengar agak kaget.
Sejenak semua terdiam, Bobby tidak berkata apa-apa. cewek itu, Intan namanya, memandang ke arah Rina dengan tatapan menyidik, sedangkan Rina, dengan Bobby masih menggenggam tangannya, merasa kurang nyaman dipandangi seperti itu.
“Eh, kenalkan, Rina” Ucap Rina memecah keheningan, sambil menarik tangannya dari genggaman Bobby dan mengulurkannya ke arah Intan.
“Intan” Intan menjabat tangan Rina sebentar, dengan cepat melepaskannya. Lalu tanpa berkata apa-apa dia berbalik badan meninggalkan mereka.
“Loh..Tan, Intan, tunggu….sebentar ya Rin” Bobby kaget melihat kepergian Intan, dengan cepat mengejarnya. Meninggalkan Rina terpaku di tengah ruangan.
Dengan kikuk Rina kembali duduk. Tanpa disadarinya suasana lebih ramai sekarang. Lagu-lagu kencang kembali terdengar.
Rina bertahan selama kurang lebih satu jam disana, sampai akhirnya dia menyerah dan memilih pulang sendiri saja karena dia merasa Bobby tidak akan, atau masih sangat lama, kembalinya.
Dia menitip pesan kepada salah satu staff club itu. meminta mereka menyampaikan pesan ke Bobby kalau dia sudah pulang duluan. Jadi Bobby tidak bingung tidak menemukannya saat dia kembali nanti. Yah, itu juga kalau Bobby masih bingung mencarinya.
Sepertinya cewek tadi itu cewek yang Bobby taksir. Itu perkiraan Rina.
Sepertinya dia cemburu melihat Bobby dan Rina.
Rina tersenyum. kenapa musti cemburu. Tidak ada hubungan khusus antara dia dan Bobby. Ataukah tidak seperti itu kelihatannya.
Apakah malam ini mereka terlihat seperti sepasang kekasih?
Ah, tidak tahulah.
Yang Rina tahu, saat ini Bobby Cuma menyenangi satu cewek saja. Dan cewek itu bukan dirinya. Malam ini Bobby mengajaknya keluar mungkin hanya untuk berterima kasih saja atas saran-saran yang telah diberikannya, berhubungan dengan masalah percintaannya.
Tidak disangka ada kesalahpahaman seperti ini.
Mungkin setelah ini Bobby akan bertanya kepadanya bagaimana caranya meyakinkan Intan bahwa Bobby hanya mencintainya.
Tidak sadar Rina tersenyum sedih, dan dia merasa matanya panas.
Ah, sepertinya sedikit banyak kehadiran Bobby akhir-akhir ini telah menyentuh satu bagian dari hatinya.
Mungkin dia terlalu lama sendiri. Kurang berteman, kurang bermain. Sehingga tanpa disadari dia merasa Bobby telah membawa perubahan di dalam hidupnya.
Dan sekarang tidak tahu kenapa dia merasa, Bobby akan pergi dari dunianya. Karena dia sudahmemiliki pacar. dan sepertinya Intan itu tipe pencemburu. Bobby pasti akan mengurangi waktunya bersama Rina sekarang.
Hhhh, Rina menghela nafas.
Seharusnya sih tidak masalah. Hanya kembali ke gaya hidup yang dulu saja. Apa susahnya. Iya, kan.
***
Rina sudah terlelap sewaktu di dengarnya suara yang memuat matanya terbuka.
Dia melihat satu bayangan merayap menaiki jendela kamarnya.
Orang lain mungkin akan berteriak karena merasa melihat maling, tapi Rina tahu itu Bobby.
Hanya saja, kenapa bayangan itu merayap. Kenapa tidak seperti biasanya saja.
Rina keluar dari selimutnya, lalu menyalakan lampu.
“Aaaa…” Kontan dia menjerit begitu lampu dinyalakan.
“Sssst” Bobby meletakkan telunjuk di bibirnya, melakukannya dengan susah payah.
Rina segera berlari menyongsongnya.
“Kenapa kamu?” Tanya Rina penuh kekhawatiran.
Wajah Bobby penuh memar, bahkan Rina melihat sedikit darah membayang di pelipisnya, menodai bajunya.
Rina membawa Bobby berbaring di ranjangnya, lalu mengambil sedikit air dari kamar mandi, dengan membasahi handuk dia membersihkan wajah Bobby.
Bobby mengernyit tatkala tak sengaja Rina mengenai lukanya.
“Maaf” Kontan Rina menarik tangannya.
Bobby memegang tangannya, dia menggeleng.
“Aku yang minta maaf” Kata Bobby sedikit berdesis. ‘malam ini aku meninggalkanmu seperti itu, melupakanmu, sampai-sampai kamu harus pulang ke rumah sendiri’
“Tidak apa-apa” Rina mencoba tersenyum. ‘aku sudah cukup senang kok kamu ajak keluar’ Rina kembali mengusap handuk basah ke wajah Bobby.
“Oh iya, aku harap Intan tidak salah paham kepadaku. Sepertinya tadi dia sedikit gusar. Apakah dia sudah mengerti kalau diantara kita tidak ada apa-apa?” Tanya Rina.
Bobby menatapnya terdiam. Rina jadi sedikit kikuk.
“Maksudku, aku hanya menerka. Selama ini kan kamu sering curhat tentang masalah cewek kepadaku. Jadi aku mengira kamu sedang menyukai seseorang, dan melihat kelakuan Intan tadi, aku mengira dialah cewek yang sedang kamu sukai. Apakah…benar begitu?” Rina balas menatap Bobby.
Bobby menunduk, ‘dia…berhak merasa curiga’ ucapnya berbisik.
Rina bergerak maju sedikit, merasa ucapan Bobby tersengar ganjil. Apa maksudnya.
“Tadi dia bertanya kepadaku tentang kamu, dan aku tidak bisa memberi jawaban yang memuaskannya. Dia semakin kesal, lalu pergi. Dan sesaat kemudian datang beberapa orang yang memukuliku. Sepertinya aku benar-benar telah membuatnya marah” Bobby berkata sambil menghembuskan napas.
Rina semakin heran.
“Memangnya kamu bilang kita ini apa? Kita kan… Cuma…teman” Rina berkata terbata, dia menunduk tak kuasa menatap langsung ke mata Bobby.
Bobby termenung sebentar, lalu dia bergerak menggenggam tangan Rina. Rina sampai terlonjak dibuatnya. Dia menatap Bobby gugup.
“Akhir-akhir ini aku merasakan satu hal yang berbeda. Lebih kuat. Mengambil alih hatiku….” Bobby berkata sambil menatap Rina lekat.
Rina menunduk, dia tahu akan kemana arah pembicaraan ini, dia dapat menebaknya. Tapi dia tidak menyangka Bobby akan berperasaan seperti itu kepadanya.
Sebenarnya entah semenjak kapan, Rina juga merasakan ada gemuruh di dalam hatinya. Seakan ada sayap kecil mengepak setiap dirinya bersama Bobby, memenuhi relung hatinya dengan angan dan asa. Hanya saja dia tidak pernah memikirkannya dengan serius. Tidak sampai saat ini.
“Hhh…mungkin kamu menganggap aku ini tidak dapat dipercaya, begitu mudahnya aku melupakan seorang yang pernah aku suka. aku juga sebenarnya kurang percaya hal ini dapat terjadi pada diriku. Jadi saat ini aku juga tidak terlalu banyak berharap. Aku hanya ingin, kita bisa terus berteman”
Rina mengangkat wajahnya. Perlahan ada senyum membayang di bibirnya.
Sejenak tadi dia memang merasa gundah. Dia juga merasa ada satu perasaan khusus kepada Bobby, tapi dia khawatir kalau saat itu juga Bobby menyatakan perasaannya, dia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya. Tapi perkataan Bobby barusan melegakan hatinya. Segalanya memang berjalan cepat bagi mereka berdua, dan Rina merasa dia masih membutuhkan waktu untuk memilah perasaan dan melihat keadaan mereka berdua.
Rina senang karena Bobby juga ternyata memahami perasaannya. Dan mungkin Bobby juga merasakan gundah yang sama seperti dirinya.
Karenanya berteman adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan saat ini.
“I’d love that” Ucap Rina dengan senyum lebar sekarang.
Bobby tertawa.
“Apa artinya tuh?” Tanyanya.
“Haha….makanya belajar yang rajin donk” Kata Rina dengan tawa berderai.
TAMAT